“MEDICAL MALPRACTICE” DALAM HUKUM PIDANA

 Bung Eka (kontributor artikel hukum Balance)

Apa sih yang termasuk dalam istilah “mal praktek medik”(medical malpractice) atau kalau mau dipakai istilah hukumnya “kelalaian medik”(medical negligence)? Menurut kamus the advanced learner’s dictionary of current english(1957) mengartikan malpractice=wrongdoing;an istance of this ,esp.an act of neglect by a doctor in charge of patient,or dishonest use of position of trust for personal gain.negligence=carelessnes;failure to pay attention or take proper-care(artinya malpraktek=salah tindak;misalnya tindakan kelaian dari seorang dokter yang mengobati pasien,atau penyalahgunaan kedudukan untuk keuntungan pribadi.sedangkan kelalaian = ketidak hati-hatian ,tidak memperhatikan atau tidak secara wajar).

Perlu diakui bahwa istilah medical malpractice atau malpractice sering menimbulkan kesan yang kurang baik.hal ini disebabkan karena masalah “kelalaian”yang tersimpul didalamnya senantiasa dianggap sebagai suatu sikap tindak yang buruk.padahal,faktor”kelalaian” tersebut apabila dilihat dari segi hukum pidana masih harus dibuktikan kebenarannya.

MEDICAL MALPRACTICE  Dalam ilmu hukum pidana,suatu perbuatan dikatakan perbuatan pidana apabila memenuhi semua unsur yang telah ditentukan secara limitatif dalam suatu aturan perundang-undangan pidana.pasal 1 kitab undang-undang hukum pidana(KUHP)menyatakan tiada suatu perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada,sebelum perbuatan itu dilakukan.pasal 1 KUHP ini dikenal denga asas legalitas “nullum delictum noela poena praevia sine lege poenalle”(ansellen von feurbach 1775-1843).kata “kecuali” dalam pasal 1 kuhp ini mengandung pembatasan terhadap perbuatan pidana.jadi tidak setiap perbuatan dapat dikriminalkan walupun secara etik mungkin bertentangan dengan moral kemasyarakatan.perbuatan pidana dapat bersifat kesengajaan (delik culpa) maupun kealpaan (delik alpa).berdasarkan doktrin ilmu hukum pidana inilah medical malpractice juga harus dibingkai apakah masuk dalam delik culpa atau delik alpa.medical malpractice dianggap bersifat delik culpa apabila ada unsur dengan sengaja yaitu perbuatan pidana itu didassrkan atas kehendak batin atau sengaja untuk melakukan perbuatan pidabna tresebut.jadi perbuatan tersebut disadari sepenuhnya oleh pelaku perbuatan pidana.contoh dari delik culpa malpraktek(sofwan dahlan,1982)yaitu aborsi tanpa indikasi medis,melakukan eutanasia,membocorkan rahasia kedokteran,menerbitkan surat kedokteran yang tidak benar,memberikan keteranga yang tidak benar dalam kapasiteas sebagi saksi ahli dalam persidangan,mebuat visum et repertum yang tidakl benar.adapun perbuatan pidana yang termasuk dalam delik alpa adalah karena alpa atau kurang hati-hatian sehingga pasien menderita luka.baik luka berat maupun luka ringan atupun mengakibatkan kematian pasien,alpa atau kurang hati-hati sehingga meninggalkan alat medis dalam tubuh pasien.sesuai dengan sifat umum hukum pidana ,pertanggungjawaban pidana selalu bersifat personal(personal liability),bukan secara klorporasi,beda dengan pertanggungjaweaban pidana dalam perbuatan pidana malpraktek(criminal malpractice),juga bersifat personal.dokter dan tenaga medis lainnya dapat dipertanggungjawabkan secara pidana,sedangkan rumahsakitnya hanya dapat dituntut secara perdata.medical malpractice bukan merupakan delik khusus .Perbuatan-perbuatan pidana malpraktek sebenarnya sudah masuk kedalam ketentuan KUHP,misalnya membocorkan rahasia kedokteran dapat dipidana dengan pasal 322 KUHP,aborsi tanpa indikasi medis bertentangan dengan pasal 347 KUHP dan pasal 348 KUHP,dan eutanasia melanggar pasal 344 KUHP.

HUKUM PEMBUKTIANPada medical malpractice pembuktiannya didasarkan pada terpenuhi tidaknya semua unsur pidana karena tergantung dari jenismalpraktek yang didakwakan .medical malpractice merupakan delik umum,maka pembuktiannya pun tunduk pada acara pidana yang berlaku yaitu kitab unadn-undang hukum acara pidana (KUHAP).Dalam pasal 184 KUHAP disebutkan tentang alat bulkti yang dapat digunakasn untuk membuktikan adanya perbuatan pidana,yaitu keterasngan saksi ,ketrangan ahli,surat,petunjukdan keterangan terdakwa.perbuatan dikatakan terbukti sebagai perbuatan pidana apabila berdasarkan minimal 2 alat bukti tersebuthakim memperoleh keyakinan bahawa perbuatan tersebut merupakan perbuatan piadana.Dalam ilmu hukum pidana perbuatan dikatakan pderbuatan piadana apabila unsur pidananya terpenuhi,misal:dalam hal dokter/perawat didakwakan melakukan tindadkan malpraktek berupa “karena kalpaannya menyebabkan meninggalnya oarang atau menyebabkan lukanya orang,maka yang harus dibuktikan adalah unsur karena kealpaanya atau kekurang hati-hatiannya dan unsur meninggal atau luka”.tapi perlu dipahami adalah tiadak setiap tinadakan medis yang tidak sesuai dengan harapan pasien merupakan tindakan malpraktek karena bisa jadi itu merupakan bagia dari apa yang disebut resiko tindakan medis.hal ini hanya dapat dijadikan persangkaan telah terjadinya tindakan malpraktek dan masih harus dibuktikan unsur-unsur piadanya.

pada umumnya masyarakat/pasien yang tidak memahami selukbeluk dunia medis akan membandingkan keadaan sebelum dan sesudah ditangani dokter/para medis artinya akan lebih mementingkan hasilnya,ketika suatu tindakan medis diberikan pada seorang pasieen yang keadaannya makin bertambah parah,kesakitan,lumpuh,koma,bahkan sampai meninggal.boleh jadi menganggap telah terjai adanya “kesalahan” sebagai akaibat dari suatu pemberian terapi yang tidak berhasil(negativ outcome)

Sedangkan masyarakat/pasien tidak mengetahui adanya resiko serius yang melekat pada setiap tindakan medik,kemingkinan adanya komplikasi ,kadang pula timbul reaksi suatu alergi,bisa timbul emboli,,sesudah suatu operassi yang berhasil,dsb.kareana sebenarnya ilmumkedokteran terdiri atas seni dan ilmu pengetahuan dan tidak bebas resiko.ilmu kedokteran tiadak diatas lapangan yang terbagi atas hitam dan putih tapi didalamnya terdapat daerah kelabu/grey area.

Tentang Ong Rosyadi

Seorang Ners jebolan PSIK UGM punya sedikit pengalaman di emergency nursing, medical surgical nursing, nursing education, hypnotherapy, wound care, NLP Sekarang hidup di dua kota Banyumas dan Jogjakarta dan sekitarnya Senang berbagi dengan semua saja yang membaca blog ini, semoga bermanfaat
Pos ini dipublikasikan di hukum-kesehatan dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke “MEDICAL MALPRACTICE” DALAM HUKUM PIDANA

  1. hardi berkata:

    makaci ya pak berkat blog bapak tugas saya selesai

  2. ald berkata:

    terima kasih buat penjelasannya pak.. boleh saya konsultasi tentang malpraktek medis dalam hukum pidana dengan bapak?? saya sedang membuat penulisan tentang hal ini… makasih pak sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s