PERAWAT TERPERANGKAP BUDAYA PEMBANTU

Sebuah tulisan kontribusi dari seorang perawat, sekarang aktif dibidang mutu dan riset RSU Banyumas, penggagas dan pendiri Komite Keperawatan di RSU Banyumas pada th 1999

Ronin Hidayat, M.Kes

Sebuah bangunan yang indah, kokoh berlantai lebih dari satu, berventilasi nyaman, didukung dengan jumlah dokter yang lengkap, teknologi canggih dan tenaga penunjang yang trampil, tetapi tidak ada pelayanan Keperawatan maka bangunan itu tidak bisa dikatakan sebagai Rumah Sakit dan hanya sebagai Klinik Dokter Praktek Bersama. Dengan demikian pelayanan Keperawatan di rumah sakit yang diberikan oleh profesi Perawat mempunyai peran yang sangat vital dan menentukan keberhasilan visi serta penerapan manajemen mutu terpadu rumah sakit (hospitals basic service). Pelayanan Keperawatan merupakan pelayanan yang luhur dibidang jasa kesehatan pada umumnya dan rumah sakit pada khususnya. Hal tersebut ditegaskan oleh WHO Expert Commitee on Nursing, (1983) bahwa pelayanan keperawatan adalah gabungan dari ilmu kesehatan dan seni melayani/merawat (care), suatu gabungan humanistik dari ilmu pengetahuan, filosofi keperawatan, kegiatan klinik, komunikasi dan ilmu social. Dipertegas lagi oleh WHO Expert Commitee on Nursing Practice (1996), bahwa keperawatan adalah ilmu dan seni sekaligus. Disebutkan juga keperawatan bertugas membantu individu, keluarga dan kelompok untuk mencapai potensi optimalnya dibidang fisik, mental dan sosial dalam ruang lingkup kehidupan dan pekerjaanya.

Kata membantu itulah yang membuat profesi Perawat yang luhur, seolah-olah profesi kesehatan lain dalam hal ini “Dokter” menganggap dirinya sebagai “Majikan” dan Perawat sebagai “Pembantu”. Hal tersebut diperjelas lagi Perawat sebagai tenaga Paramedis, arti secara harafiahnya para = pembantu dan medis = dokter. Dengan mitos itulah profesi Perawat menjadi terbelenggu pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, Perawat tugasnya tidak boleh kemana-mana, boleh tumbuh tidak boleh berkembang, terjadi penyusutan kreatifitas, harus tunduk pada aturan “Manut dan manut”, pendidkannya hanya sederjat dengan SLTP (PK C )/SLTA (SPK) dan disitulah yang dimaksud penulis, “Perawat Terperangkap Budaya Pembantu”. Sehingga mindset dan perilakunyapun membentuk state “Pembantu”, terbiasa dan linier, menjadi budaya dan lebih parah lagi menjadi karakter, sehingga mengakar sampai berpuluh-puluh tahun lamanya, walaupun pada tahun 1983 pada Lokakarya Nasional Kelompk Kerja Keperawatan-Konsorsium Ilmu Kesehatan, merumuskan bahwa keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelurga dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Sebagai insan manusia yang normal mempunyai otak kiri dan kanan yang sinergis, maka kita akan manggut-manggut dan hatinya berbicara ”Fantastis…Luar Biasa !”. Hal tersebut bertambah mengkristal manakala membaca definisi Ilmu Keperawatan menurut Konsorsium Ilmu Kesehatan 1991 adalah mencakup ilmu-ilmu dasar (ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu perilaku) ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan, ilmu keperawatan komunitas, dan ilmu keperawatan klinis yang aplikasinya menggunakan penekatan dan metode penyelesaian masalah secara alamiah, ditujukan untuk mempertahankan, menopang, memelihara, dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia.

Definisi tersebut membuat motivasi Perawat bangkit, membara, ingin berlari, jantung berdenyut kencang, mata ”mendelik” bagai elang, rasanya lengkap sudah dalam diri Perawat. Seandainya tokoh Perawat legendaris Florence Nightingale mendengar dan menganalisa definisi tersebut, beliau akan berkata, ”Saya bangga dan hormat pada Perawat Indonesia yang mendefinisikan dirinya sebagai profesi yang utuh, yang siap mengabdikan dirinya dan berani menanggung segala resiko. Hidup Perawat.”. Semua Perawat pada era 1990 yang mengabdikan dirinya dibidang pendidikan Keperawatan akan berkata sama seperti Florence Nightingale, yang saat itu juga telah lahir beberapa S-1 Perawat (SKp). Hanya saja perkembangan tersebut tidak sinergis dengan kondisi pelayanan yang terjadi di unit-unit pelayanan kesehatan, Rumah Sakit, PusKesMas, Balai Pengobatan dimana Perawat bekerja.

Komunitas Perawat di rumah sakit yang sebagian besar berbasis pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan(SPK), dan hanya sebagaian kecil yang berbasis DIII Perawatan (AKPER) mengalami kegalauan dan kebimbangan dalam dirinya antara definisi yang ada dengan bentuk realita pelayanan. Perawat yang berbasis D III Perawatan mulai mengenalkan model pelayanan keperawatan di rumah sakit hasil titipan para dosen perawatan dengan sebutan Asuhan Keperawatan (Askep) pada teman-teman Perawat yang berbasis SPK serta mengenalkan kepada manager-manager rumah sakit pembuat kebijakan. Mulailah muncul berbagai tanggapan antara pro dan kontra tentang Asuhan Keperawatan dalam pelayanan di Rumah Sakit. Perawat yang mempunyai mindset profesional akan menanggapi kedua tanggapan tersebut dengan arif dan bijaksana ”Perubahan perlu perjuangan dan kesinambungan perlu komitmen”, sehingga untuk mengubah lingkungan rumah sakit dalam hal ini profesi dokter yang memegang kebijakan pelayanan rumah sakit agar mengerti dan mengakui eksistensi Perawat sebagai mitra profesi menjadi makin sulit. Mengapa demikian karena Perawat sendiri yang telah meraih gelar profesi jarang yang mau terjun memberikan jasa pelayanan keperawatan secara langsung untuk berdampingan bersama-sama melayani pasien yang mengalami permasalahan kesehatan, sedangkan komunitas Perawat yang berbasis SPK dan D III Perawatan sangat menikmati budaya yang diwariskan oleh sesepuh Perawat sebagai Paramedis. Budaya tersebut meliputi nilai-nilai pelayanan (value) dan keyakinan (beliefe), tradisi, prosedur dan harapan-harapan, dari keempat tersebut yang sangat menonjol dan membuat Perawat bergantung pada dokter adalah harapan.

Harapan Perawat sebagai insan manusia yang normal, mayoritas untuk dipenuhinya kebutuhan dasar meliputi makan, minum, biologis dan lain sebagainya, yang semua itu bermuara pada upah kerja (keuangan). Bagi dokter ”uang tidak penting tapi pokok” yang sangat penting bagi dokter adalah kepuasan pasien, sehingga pasien menjadi tambang emas untuk menghasilkan uang dan 10 % hasilnya untuk menggaji pembantu rumah, transportasi, lobi, pemasaran serta seseorang yang membantu dan terlibat dalam pelayanan kepada pasien. dengan hal tersebut anda bisa menebak siapa yang membantu dalam pelayanan dokter ? Tidak lain adalah orang yang mau membantu dokter, berpenampilan seperti dokter tapi upahnya sesuai dengan keinginan dokter. Hal tersebut dibaca oleh sebagian besar Perawat sebagai peluang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya untuk mempertahan hidup dan menghidupi keluarga.

Sangat berbeda dijaman Perawat legendaris Florence Nightingale, mereka menjadi Perawat karena panggilan hatinya untuk membantu orang-orang yang menderita sakit dan tanpa memperhitungkan segi keuangan karena mereka dilahirkan dari kalangan yang bangsawan, yang melayani pasien sebagai aktualisasi diri sedangkan pada era kemajuan pendidikan Perawat di Indonesia dalam memberikan pelayanan kepada pasien karena uang untuk memenuhi kebutuhan dasar dirinya. Dengan kondisi itulah terciptalah di lembaga pelayanan kesehatan antara dokter dan Perawat dalam, ”Budaya Atasan dan Bawahan”, kalau diteropong dengan mikroskop yang tercanggih dengan lensa yang sangat tipis oleh mata masyarakat sebagai pengguna jasa kesehatan maka akan terlihat ”Budaya Majikan dan Pembantu”. Terperangkaplah Perawat dalam budaya tersebut

Untuk keluar dari kondisi tersebut, dan Anda tertarik untuk merubah Perawat sebagai Majikan dalam pelayanan dan yang lainnya adalah ”membantu Anda ” maka ikuti kajian berikutnya pada tema ” Perubahan Mindset Perawat Tranformasional untuk menciptakan peluang bisnis jasa Kesehatan”

Tentang Ong Rosyadi

Seorang Ners jebolan PSIK UGM punya sedikit pengalaman di emergency nursing, medical surgical nursing, nursing education, hypnotherapy, wound care, NLP Sekarang hidup di dua kota Banyumas dan Jogjakarta dan sekitarnya Senang berbagi dengan semua saja yang membaca blog ini, semoga bermanfaat
Pos ini dipublikasikan di resonansi. Tandai permalink.

16 Balasan ke PERAWAT TERPERANGKAP BUDAYA PEMBANTU

  1. adimasmw berkata:

    satu yang harus untuk menghilankan stigma itu, kita perawat harus pinter (kata dosen saya dulu). salam kenal

  2. wastu berkata:

    Mind set sangat utama. Kalau perlu semua perawat dihipnotis, supaya alam bawah sadarnya berubah. Mind set nya berubah. Ya nggak.

    Lha wong 50 tahun lebih dididik dengan paradigma mengabdi, pasti itu telah mengafirmasi sampai bawah sadarnya.

  3. rahmawati berkata:

    .. karena perawat adalah mitra kerja..

  4. bag berkata:

    sedih …..jadinya

  5. Ronin Hidayat berkata:

    Menanggapi Sing gelem BACA

    Temen Pembaca yang baik
    Sebenarnya anda termasuk orang-orang yang kembali ke jalan yang benar, karena peduli terhadap kerangka berpikirku, tapi baru sekedar penguatan (reinforcement), yang saya harapkan justru anda beda pendapat dengan aku, misalnya “Perawat bukan terperangkap budaya Pembantu saja, tapi Pembantu yang bertitel “, itu contoh yang terperangkap. Kalau anda baca dan peduli menunjukan bahwa anda termasuk yang tidak terperangkap Budaya Pembantu, dan bagi yang tak peduli/komentar berarti mereka yang masuk dalam ketegori “Terperangkap” walaupun mereka mempunyai jabatan sebagai Direktur STIKES, Kabid Perawatan, Ketua PPNI atau jabatan lainnya. makanya “Iqra”

  6. Mindset sebagian besar perawat perlu direformasi dan para perawat harus sering meng-update pengetahuan dan wawasannya. Juga kepeduliannya sangat perlu diasah terus.
    Karena sudah merasa nyaman sebagai “pembantu” ya…. akhirnya tidak ada upaya untuk berubah menjadi majikan atau minimal memperbaiki nasib “sesama pembantu”.
    Salam buat Sdr. Dwi Purcahyono (perawat anestesi)

  7. fathur rohman berkata:

    saya sangat sedih melihat perawat saat ini. dijaman yang moderen ini manusia hidup dan ingin membahagiakan orang yang dicintainya yaitu bukan hanya memenuhi kebutuhan dasarnya, namun ia harus meluangkan waktu dalam pekerjaannya yaitu rekreasi, sehubungan dengan perawat gajih yang hanya memenuhi kebutuhan dasar, sangat berat berat bagi keluarga perawat untuk membesarkan kel. dengan pencapaian IQ, EQ perawata.

  8. Mustoha berkata:

    Ngaa usah sedih mas, justru sekarang bagaimana perawat jadi majikan, jangan mau jadi pembantu terus tidak cukup sekolah saja tapi mesti punya jiwa enterpreuner, harus bisa mengubah sudut pandang. Kalau model-modelnya kaya yang sekarang dan dulu-dulu saja siap-siap jadi pembantu makanya berubah , berubah !!! mulai dari diri kita dan sekarang

  9. OBOY berkata:

    SAMPAI SAAT INI PERAWAT EMANG PEMBANTU KOK, WALAUPUN PINTER-PINTER TEORI NYA AJA TINGGI-TINGGI TAPI SEBAGIAN BESAR MUTU DALAM PENDIDIKAN TERSEBUT BERSEBERANGAN DENGAN PRAKTEKNNYA, MALAH DIKOTA BESAR BANYAK PENGHASILANNYA PERAWAT D3/S1 KALAH SAMA DGN TAMATAN SMA YANG KURSUS 3-6 BULAN JADI TERAPIS KESEHATAN/KECANTIKAN YG PUNYA PRAKTEK SENDIRI DI SALON. MIKIR DONK JADI PERAWAT …JANGAN NABUNG UNTUK SORGA DOANG TAPI BERJUANGLAH UNTUK KEHIDUPAN DAPUR KELUARGA ANDA, PPNI TUMPUL PISAN TIDAK ADA GAUNG KE MASYARAKAT.

  10. haroen berkata:

    yakkk..betulll…
    PPNI kyanya cmn organisasi yang ga dikenal,bahkan oleh anggotanya sendiri.
    coba aja tanya sama orang2, mereka lebih familiar dengan IDI atau IBI daripada PPNI.

    gimana mau memperjuangkan nasib perawat, wong mempersatukan “umatnya” aja ga becus.

    http://perawat-go-blog.blogspot.com

  11. OBOY berkata:

    AGAR PROFESI KITA DIKENAL PROFESIONAL OLEH MASYARAKAT , BAIKNYA KITA HARUS ADA GAUNG KE LUAR (MASYARAKAT), ENTAH SAYA KUPER ATAU JARANG MENGIKUTI PERKEMBANGAN DUNIA PPNI.
    PERTANYAAN SAYA, SBB.:
    ADAKAH PPNI PUSAT TELAH MENGELUARKAN /MEMBUAT :
    1) MAJALAH KHUSUS PPNI?
    2) MAJALAH TENTANG KEPERAWATAN KESEHATAN UNTUK DI JUAL/DIBACA OLEH MASYARAKAT?
    NOMOR 1 DAN NOMOR 2 TSB. SAYA YAKIN AKAN LAKU, DAN SAYA PERNAH JUGA SELAMA 2 TAHUN MENJADI PENJAJA ATAU BAHASA GAYANYA BANTU JUAL MAJALAH KEPERAWATAN PPNI JAWA TENGAH … JANGAN PESIMIS …KEPERAWATAN SENDIRI ADALAH LAUTAN ILMU YANG TERUS BERKEMBANG …TAPI JANGAN SALAHKAN MASYARAKAT BILA MELIHAT PROFESI PERAWAT DI RS SEBAGIAN BESAR SEBAGAI BAWAHAN ATAU PEMBANTU DOKTER….ADUH…TOLONG….CAPE..DECH!!!.
    SAYA PERNAH MENGEDARKAN BULETIN 3 BULANAN YANG DITERBITKAN OLEH PPNI BANYUMAS DIBAWAH KOORDINATOR BAPAK R. SULISTYO HADI…ISI BULETIN/MAJALAHNYA BOLEH JUGA TUH. SAYANG SEKALI TIDAK BERLANJUT KARENA SAYA SEKARANG TINGGAL DI CIKARANG-JAWA BARAT.
    SALAM UNTUK PARA PERAWAT DI JAWA TENGAH, JUGA KOORDINATOR PPNI BANYUMAS (BAPAK R. SULISTYO HADI)…BELIAU ADALAH PERAWAT ENTERTAIMENT DAN PENGUSAHA YANG PERLU SAYA KAGUMI…JUGA SALAM BERAT UNTUK BP. SUNARMIN (PERAWAT DAN ANGGOTA DPRD WONOGIRI) …BAPAK OETOMO (PERAWAT DAN ANGGOTA DPRD KAB. BOYOLALI).
    MEREKA ADALAH PARA PEMIMPIN PERAWAT SENIOR YANG PERLU KITA CONTOH KETELADANNYA..MEREK ADALAH MEREK PERAWAT YANG TELAH SUKSES, TAULADAN DAN MANDIRI. (TIDAK SEBAGAI PEMBANTU DOKTER). SAYA MOHON PARA PERAWAT MUDA JANGAN KALAH PAMOR DENGAN PERAWAT BAHOELA…YANG SEKOLAHNYA SAJA CUMA TAMAT SPR…”JANGAN ADA ALASAN JAMAN BERBEDA”…TUNJUKKAN DENGAN GELAR..ATAU ATRIBUT YANG PERNAH KITA LALUI DENGAN PENDIDIKAN TINGGI …KITA SEMUA DAPAT DIAKUI DAN DISEJAJARKAN DGN PROFESI LAIN.

  12. choy berkata:

    Perawat memang selama ini adalah masyarakat kelas dua terutama di kota-kota….kalau di desa mantri pasti hampir sederajat menteri…..he.hh.ehhh… karena memang fokusnya masih belum fokus dunia keperawatan ilmunya bagaimana..kedua masalah manajemen / pemerintahan…. kalau ada manteri kesehatan dari perawat..itu easy semua bisa diatur..mau praktek..mau gaji setara jadi first classes bisa why not…perawat….kapan yah tapinya….

  13. Takur berkata:

    Ha….ha….? Bravo untk perawat seindonesia , Kalau dirasa-rasa sih mmang ada bnarnya juga . Tpi bila ada yg mrasa msih jdi pembantu jangan brkecil hati . Pengin jdi pembantu sukses jdilah pmbantu di L N , masak kalah dng PRT / Pahlawan Defisa. Kalau pngin top manajer sukses jadilah mantri desa + bojone Bides wiis,….. duwite ngalir truss. Smpe gak kpikiran sekolah…. ” setuju sedulur-sedulur…….??!….setujuuuu……?

  14. Yayan- madura berkata:

    ya…. inilah Profesi Kita… PERAWAT…
    Saatnya Kita bangkit Dan bersatu, Berjuang Untuk Profesi Kita
    Emang Siih…. Kita sekarang masih Jauh tertinggal dari Profesi Yang lain…., Kayaknya kita perlu tiru Profesi lain tuh….. mereka berhasil Mengangkat harkat Profesi Mereka Dengan ” DEMO ” dan pemerintah dengerin tuh….Truss Kita Gimanaaaa ?????
    Jangankan Oleh Profesi Dokter…. Pemerintah belum Mengakui Kberadaan KIta, Kita sudah banyak yang S1 Kep + Ners. Tapi secara Kepangkatan KIta pernah diakui pemerintah.. yang ada aturannya tu… cuma D3 Doang.. ya beginilah nasib kita, Tapi jangan berkecil hati.. Terus maju dan mari kta terus berjuang kalau bukan kita sapa lagi….
    Baravo Profesiku……Perawat Indonesia
    Tunjukkan Jati Dirmu PPNI-KU TERCINTA

  15. kiki berkata:

    nyatanya memang begitu mas, wong perawat yg pendidikan tinggi,pangat gol cukup pasti pengin melimpah jadi dosen at pejabat tak mau lagi jadi klinisi keperawatan kapan mau maju dihargai itu riil neng lapangan, ya ngga? akeh contoh mas beda karo dokter sekolah dokter pengin jadi dokter/klinisi ora pengin dadi pejabat ya ora mas

  16. trian berkata:

    kita generasi muda terus terang dari hati yang paling dalam, kalau diukur mah saking kuat nya tekad kita udah sama kerasnya kayak besi untuk menjadi sama majikannya SEPERTI DOKTER!! jika perlu lebih!!

    semangat yang besar, sma besar nya dengan semua mahasiswa yang punya jiwa perubahan, karena walau bagaimanapun kita mahasiswa dan kita muda!!!

    tapi kita muda, tak ada kepintaran, ide, semangat yang dapat mengalahkan pengalaman kakak2 yang sudah lama terjun kedalam dunia keperawatan!!!

    kami sangat membutuhkan ulurang tangan, bimbingan, dan arahan, bukan cacian dan makian serta tatapan sinis dari kakak2!! saya yakin bersama kita bisa (seperti kata SBY)!!!

    karena kami tidak mau jadi PEMBANTU!!!!

Komentar ditutup.