Menggagas sebuah “paraplegi rehab nursing care”

Kalau anda membaca Buletin Balance edisi cetak ( yang baru beredar internal di RSU Banyumas) tentunya membaca tentang cerita pasien kita yang sekarang dirawat di bangsal M dengan kelumpuhan anggota gerak bawah atau yang dikenal dengan istilah paraplegia yang alhamdulillah oleh team Home Care kita bisa mencarikan donatur dari LAZIS Purwokerto untuk mendapatkan bantuan kursi roda.

Parapelgia ini sering disebabkan karena trauma pada vertebra, medula spinalis (tulang belakang, sumsum tulang belakang) , trauma soft tissue, maupun terjepitnya saraf disekitar tulang belakang yang disebabkan karena kecelakaan, trauma, jatuh dan sebagainya. 

Dampak dari kasus ini yang kita dapatkan di ruang perawatanpun bukan sekedar lumpuh pada kedua kakinya saja akan tetapi lebih luas dari itu. Kejadian yang sering kita jumpai adalah pasien mengalami kelumpuhan pada kedua kaki, gangguan pada Buang Air Besar, Gangguan pada saat Buang Air Kecil, belum lagi faktor ketidak mampuan untuk mobilitas yang dapat mengakibatkan luka tekan (ulkus dekubitus) karena terlalu lama berbaring dalam posisi menetap, kekakuang sendi, risiko infeksi karena infeksi saluran kencing, risiko sepsis karena infeksi pada luka, sampai masalah psikologis yang berat keputusasaan, ketidakberdayaan, sampai suatu hal yang tragis dan mengenaskan bisa terjadi pada pasien kita. Bila kita tidak peduli, hal tersebut di atas adalah suatu hal yang tidak mustahil bisa terjadi terjadi. Wilayah Banyumas dan sekitarnya sangat berisiko untuk terjadi kasus trauma vertebra yang dapat menimbulkan paraplegi. Kecelakaan dan trauma adalah penyebab yang paling sering. Secara pengalaman di bangsal perawatan sudah banyak kita menjumpai kasus trauma vertebra dan paraparese sampai paraplegi. Kasus tersering (kita sedang mengumpulkan data pastinya) adalah kasus saudara kita “penderes” / penyadap nira kelapa, yang jatuh dari pohon kelapa.

Kebanyakan dari pasien kita adalah golongan tidak mampu yang mereka adalah pejuang bagi keluarganya untuk memenuhi nafkah keluarga. Banyak kasus dari mereka perawatannya tidak bisa maksimal, mereka pulang kebanyakan dengan status APS (atas permintaan sendiri), karena meskipun biaya perawatan dan pengobatan gratis (JPS/Askin dsb) mereka keberatan disegi ongkos keluarga yg menunggu, lamanya perawatan dan pasien sebagian besar adalah tulang punggung keluarga. Pasien kebanyakan pulang dengan proses rehabilitasi yang belum optimal, dan kemandirian pasien dan keluarga untuk merawat pasien yang pulang APS tersebut masih sangat kurang.

Ada beberapa dampak dari hal tersebut di atas bagi pasien, diantaranya pasien akhirnya dirawat kembali di rumah sakit dengan kondisi yang jauh lebih parah bila dibandingkan dengan saat baru pulang dari rumah sakit, luka dekubitus yang luas, malnutrisi, bahkan sampai sepsis. Pasien yang tidak mapu untuk kembali ke rumah sakit akan menjalani hidup yang tragis dan mengenaskan bila tanpa proses rehabilitasi dan edukasi yang baik. Upaya untuk dapat memandirikan pasien dan keluarga adalah suatu hal yang harus kita lakukan untuk meminimalkan dampak tersebut di atas.

Beberapa upaya sudah diupayakan untuk meminimalkan dampak tersebut, diantaranya adalah proses rehabilitasi di rumah sakit, dikarenakan beberapa keterbatasan proses ini belum berjalan dengan optimal. Upaya yang lain coba kita tempuh dengan mengirim pasien ke rahab center, lokasi yang terdekat dari Banyumas adalah rehab center di Surakarta, tetapi kendala yang dikeluhkan oleh pasien adalah jarak dan biaya bagi pasien dan keluarga pasien.

Melalui tulisan ini kita mencoba untuk sharing, kita mempunyai harapan bisa mempunyai sebuah rehab nursing care untuk kasus paraplegi, kita akan mencoba mengawali dengan beberapa tempat tidur di sebuah ruang perawatan, tentunya dengan seting tempat dan peralatan yang khusus, SDM perawat yang mempunyai kemampuan rehab nursing, perawat dengan kemampuan wound and incontinensia care, dokter dan SDM rehab fisotherapy, okupasi therapy, pekerja sosial, dsb

Bagi pembaca yang budiman kami menunggu sharing pengetahuan, pengalaman, informasi, dan sumberdaya yang terkait dengan “impian” kami, saya yakin anda peduli dengan kondisi pasien-pasien kita. Jangan biarkan mereka berakhir hidupnya pada kondisi yang mengenaskan. Terima kasih atas kepedulian anda ..

 

Tentang Ong Rosyadi

Seorang Ners jebolan PSIK UGM punya sedikit pengalaman di emergency nursing, medical surgical nursing, nursing education, hypnotherapy, wound care, NLP Sekarang hidup di dua kota Banyumas dan Jogjakarta dan sekitarnya Senang berbagi dengan semua saja yang membaca blog ini, semoga bermanfaat
Pos ini dipublikasikan di resonansi dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Menggagas sebuah “paraplegi rehab nursing care”

  1. John berkata:

    Saya adalah penyandang praplegia sejak thn 84 tepat 10-01-84, Dari pengalaman saya kebanykan para medis kita hanya mengobati luka fisiknya si pasien saja sedangkan dari segi mentalnya jiwanya sering terabaikan. Dan kebanykan para perawatnya kurang terlatih dengan situasi si pasien kadang ada yang tidak mengerti sama sekali. Ada perawat yang tidak ramah mahal senyum cuek saja. Dan yang paling penting lagi waktu dlm perawatan mst di latih untuk mandiri jgn perlakukan seperti orang pesakitan yg tdk bisa apa-apa lagi. Rawatlah mereka dgn cinta kasih agar mereka betah di RS sampai sembuh. Dan satu lagi tolong di sediakan juga psikolog tuk curhat. Thx

  2. udinkoxx berkata:

    impian yang mulia untuk punya rehab nursing buat penyandang paraplegia.
    Saya sendiri adalah penderita paraplegia.
    saya doakan semoga berhasil

  3. dyah saraswati berkata:

    senang rasanya ada yg menyebutkan profesi saya occupational therapy memang kebedaan saya jauh dg kota Anda tapi jika bpk Ong Rosyadi aktif di facebook bisa kenalan dg pak Budi Santoso beliau dosen OT di poltekes surakarta munkin SDM OT bisa di dapatkan memalui beliau

  4. Ong Rosyadi berkata:

    Terima kasih atas kunjungan ke blog ini konsep rehab nursing bisa di lihat referensinya di sini🙂

  5. Dewi berkata:

    Alhamdulillah msh ad orang sprti bp yg peduli dg sesama.saya sndiri jg penderita paraplegi sejak th 1990..semoga dibr kemudahan & kelancaran allah swt

  6. tari berkata:

    Sukses. Sangat senang jika ada pelayanan khusus bagi paraplegi, karena memang sangat penting dan sangat mahal jika sampai terkena dekubitus. Jika diberi kesempatan kamipun bisa berjuang untuk mempertahankan hidup dengan keterbatsan kami.
    Saya Paraplegi dari Klaten dan sudah 12 tahun hidup dengan kursi roda dan sekarang bekerja di Yogyakarta.

  7. hanni berkata:

    Buat Pak Ong, terima kasih atas informasinya. Semoga impian-nya akan segera terealisasikan. baru-baru ini, sahabat saya divonis dokter menderita penyakit tersebut. kami masih sangat kesulitan untuk mendapatkan referensi rumah sakit sekitar jabodetabek yg dapat menangani kasus ini. o..iya, posisi kami di Bogor. mohon kebaikan hati Bapak atau rekan-rekan yang mempunyai informasi apapun tentang penyakit ini dishare melalui milist ini. sekecil apapun informasi itu akan sangat berharga untuk kami. kami sangat membutuhkannya. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s