Jeritan di Pagi Bolong

Pagi itu suasana bangsal kurang lebih seperti hari biasanya. Sebagai bangsal perawatan kelas tiga seperti kebanyakan rumah sakit lain di jaman yang serba susah ini, bangsal penuh alias full house tak tersisa satupun tempat tidur yang kosong.

Kegiatan pagi hari saat itu berjalan dengan penuh makna, maklum sebagai bangsal yang menerapkan MPKP alias Model Praktek Keperawatan Profesional ( ceilah….. profesional ) dengan menggunakan metode MPM alias Model Primer Modifikasi (apanya ya yg dimodifikasi?) … diawaali dengan timbang terima jaga AN (assosiate nurse) dinas malam ke PN (primary nurse) yang jaga pagi, dilanjutkan dengan moorning meeting dan prekonference… ya begitulah meskipun kita merawat pasien kelas tiga yang sekarang pake istilah jankesmas itu profesionalisme tetap kita kedepankan ( ehem..ehem).

Singkat cerita acara demi acara berjalan dengan lancar, sampailah pada puncak acara (kaya 17-an saja) yaitu GP (ganti balut alias ganti perban, change dressing). Kebetulan pasien yang terakhir dilakukan change dressing adalah pasien para parese dengan luka dekubitus yang cukup lebar maklum setengah tahun berada di rumah dengan perawatan yang tidak memadai di rumah.

Setelah acara change dressing / ganti balutan selesai, acara yang menjadi penghujung acara adalah perineal hygiene kebetulan pasiennya cowok yang masih muda 20 th-an maka acara ini biasanya kita pakai istilah “mandi burung” alias memandikan “burung” pasien karena pasien terpasang kateter dan ini merupakan prosedur rutin untuk mencegah terjadinya infeksi.

Kegiatan ini sudah berlangsung semenjak pasien masuk sampai hari sebelum hari itu tanpa adanya “insiden” alias acara “mandi burung” itu berlangsung secara lancar dan terkendali. Akan tetapi pagi itu tidak seperti biasanya yang melakukan “mandi burung” adalah Jeng Asih PN kita karena kebetulan AN yang laki-laki sedang pada acara keluar semua.

Singkat cerita ketika sedang melakukan “mandi burung” secara tidak dinyana tiba-tiba “burungnya bangun” dan sang PN menjerit kaget !! Maklum saja katanya sebagai keturunan Phitecan Trophus Erectus tentunya sebagai laki-laki masih mempunyai bakat “erectus” yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Yang mengagetkan sebenarnya adalah pada pasien paraplegia, paraparese dimana terdapat kelemahan bahkan kelumpuhan anggota gerak kedua kaki termasuk yang diantara kedua kaki alias “burungnya” tdk bisa bangun. Pada pasien ini selama dirawat tidak menunjukkan adanya tanda-tanda “kebangkitan” dan baru pada pagi bolong hari itu insiden “kebangkitan” terjadi.

Akhir cerita jeritan Jeng Asih sang PN merupakan pertanda adanya kemajuan dari pasien jadi jangan berpikir ngeres dulu tentang “burung” yang bangun karena itu merupakan salah satu indikator kita dalam mengevaluasi perkembangan / kemajuan pasien……

Kita sebagai perawat memang harus jeli untuk mengamati tanda-tanda atau indiktor-indikator yang bisa digunakan untuk mengukur perkembangan ataupun kemajuan dari pasien kita. Indikator-indikator itu bisa kita lihat salah satunya adalah pada buku NOC, dimana didalamya terdapat ribuan indikator…

Ooo… begitu, kalau begitu kasus dalam cerita jeritan di pagi bolong diatas ada NOCnya nggak ya ?…

Tentang Ong Rosyadi

Seorang Ners jebolan PSIK UGM punya sedikit pengalaman di emergency nursing, medical surgical nursing, nursing education, hypnotherapy, wound care, NLP Sekarang hidup di dua kota Banyumas dan Jogjakarta dan sekitarnya Senang berbagi dengan semua saja yang membaca blog ini, semoga bermanfaat
Pos ini dipublikasikan di nurse story. Tandai permalink.

8 Balasan ke Jeritan di Pagi Bolong

  1. Rahmawati berkata:

    ini beneran tulisan pak ong rosyadi?
    *ngucek2 mata serasa ga percaya*

  2. Ong Rosyadi berkata:

    Khan dalam tulisan itu disebutkan tidak ada maksud lain, itu adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi alias sungguh-sungguh terjadi. Pada saat mau menceritakan juga kita mencoba pakai bahasa sehalus mungkin. Namanya juga nurse story jadi ceritanya bisa bervariasi dan macam-macam dan tidak tertutup kemungkinan kejadian yang “lebih aneh” bisa terjadi. Dari cerita itu sebenarnya yang ingin diambil intisarinya adalah bahwa sebagai perawat perlu untuk memperhatikan hal-hal yang terjadi pada pasien, sekecil apapun perubahan yang terjadi pada pasien adalah merupakan “pertanda” kemajuan atau kemunduran perkembangan pasien kita yang harus kita pantau dan kita evaluasi dan dapat digunakan untuk menentukan intervensi perawat selanjutnya… Ok gitu aja.. ngga usah dikucek-kucek terus matanya..🙂

  3. Bee_304 berkata:

    Hehe… sampe kepingkel-pingkel bacanya. Kayaknya indikator “kebangkitan” perlu ditambahin d NOC deh.

  4. Rahma berkata:

    ..padahal kan artinya pithecantropus erectus bukan itu😀
    Karena kemajuan pasien, saya ucapkan selamat deh buat mbak Asih😀

  5. wastu berkata:

    Wah saru. Melanggar kode etik nggak ya cerita kaya gini….

  6. Ong Rosyadi berkata:

    He..he.. jangan salah resepsi eh salah persepsi dulu bos .. “mandi burung” maksudnya dressing cateter dan perineal higiene itu khan prosedur rutin mencegah infeksi ya bos..tujuannya ya memang untuk menjaga kebersihan supaya tidak tidak terjadi infeksi dan sama sekali tidak untuk “membangunkan burung” jadi kalau “bangun” itu merupakan insiden yang tidak disangka..begitu bos….

  7. Ariani berkata:

    Dear Mr. Oong,
    Assalamu’alaikum… Selamat ya…menarik dan keren ceritanya. cuman di awal cerita kok jadi mengesankan gak PD gitu si Pak ma MPM nya??? padahalkan we all know that your ward is one of the best wards in Banyumas kan. :-))
    Good Luck!!!
    Wassalam

  8. Ong Rosyadi berkata:

    Ok thank you masukannya Mba.. maksudnya sih bukan nggak PD, tapi memanga kaya begitu gaya penulisan saya..kalau bahasa banyumasnya “dablongan”… jadi tidak ada maksud untuk tdk PD apa lagi melecehkan .. di bangsal saya khususnya, teman-teman PD dan semangat melaksanakan MPKP dan MPM….dan ini semua berkat bimbingan Ibu Bapak dosen Manajemen keperawawatan PSIK UGM lho..
    OK sukses buat Mba Ariani dan suami yang lagi di Philipine cepat selesai S2nya ..Pak Affandi kuliah di Philipine Women’s University.. jadi masiswa laki-laki sendiri dong pak😀 … sorry bercanda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s