Next On After NIC

Saya meyakini tentang “dua kata” yang dipikirkan bersama oleh perawat Indonesia dan mungkin diperjuangkan oleh sebagian perawat se Indonesia. Dua kata itu adalah Profesional dan Kesejahteraan.

Kata yang pertama (profesional), saya tidak akan membahas terlalu panjang di tulisan ini, karena sudah banyak yang membahasnya. Saya hanya bertanya, “Seperti apa sih profesional?” Kalau saudara menjawab, “PROFESIONAL ITU SEPERTI SAYA” (menunjuk diri sendiri), …………….

maka jawaban itu yang saya maksud dan inginkan.

Karena profesional adalah predikat yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang karena kemampuan dan keahliannya dalam pekerjaan tertentu. Kalau mau komentar ekstrim, “kayaknya kita tidak bisa mengaku-ngaku professional sebelum bisa menunjukan dirinya memang professional.” Maka menjadi renungan bagi kita………….

Bayangkan pada suatu hari, ada seorang dokter bertanya kepada kita. “Mas, professional itu apa sih?” Beranikah kita menjawab, “Profesional itu seperti saya, Dokter.” Kalau saudara berani menjawab dengan ungkapan seperti itu, maka memang saudara sudah professional. Itupun masih diuji oleh orang yang mendengar jawaban saudara. Bila orang yang mendengar jawaban saudara tersenyum sinis, rasanya kita perlu mengevaluasi jawaban yang sudah kita berikan itu.

Kata yang kedua adalah “kesejahteraan”. Tentu kesejahteraan perawat. Pernahkah terbayang di benak kita, bahwa kita bisa menyamai seorang dokter dalam menerima jasa pelayanan yang telah diberikan kepada klien kita? Seorang dokter, ketika dia melakukan kunjungan pasien (vicite) dengan waktu yang tidak lebih dari lima menit, dia bisa mendapatkan jasa sesuai aturan main yang berlaku. Begitupun seorang dokter yang memegang pisau, memagang jarum atau apapun tindakan yang dilakukan kepada pasien, semua berimbas pada cost yang harus dikeluarkan oleh pasien atau harus dibayar oleh asuransi.

Sementara bagi perawat? Nungguin pasien 24 jam sehari, melakukan injeksi dua sampai tiga kali sehari per pasien, pasang infus dan lain-lain tindakan yang jumlahnya ratusan, hampir tidak pernah mendapatkan jasa seperti halnya seorang dokter. Mengapa bisa demikian? Jawabannya tentu beragam. Dan saya tidak akan membahas jawaban-jawaban itu dan alasan-alasan yang disampaikan. Saya hanya punya satu kalimat yang dirasa cukup menggambarkan kondisi itu. Yaitu bahwa, “Perawat memang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” (Teman-teman saya di rumah sakit protes, bukankah itu julukan untuk Bapak dan Ibu Guru?)

Kesejahteraan memang merupakan hal sensitive. Dan itulah yang dari dulu kita perjuangkan bersama-sama. Banyak pemikiran yang berkembang, banyak versi yang muncul tentang kesejahteraan yang dalam bahasa aplikatif dinamai “Jasa Perawat”.

Ada yang menempatkan jasa perawat dipandang dari sebuah profesi yang mulia, sehingga tidak pantas dihargai seperti tukang. Katanya, kalau setiap melakukan tindakan (memandikan, membersihkan rambut, injeksi, pasang infuse dll) kita minta dihargai per item, kita seperti tukang, bukan tenaga professional lagi. Maka pemberian jasa perawatan yang pas adalah dengan system paket, yang di beberapa rumah sakit termasuk RSU Banyumas dinamakan Jasa Asuhan Keperawatan.

System Jasa Asuhah Keperawatan, dibuat tariff Asuhan Keperawatan dan ditarik per pasien per hari. Persis seperti akomodasi rawat inap. Tapi jangan tanya besarnya rupiah. Mengapa? Karena hanya sekitar 10% dari tariff vicite dokter. Kalau toh dibagikan 60%, tidak signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan perawat.

Saya mungkin bagian dari sedikit orang yang tidak setuju dengan pendapat dan system itu. Saya lebih suka dikatakan “tukang” tapi mendapat jasa yang besar, dibandingkan professional (bukan tukang) tapi tanpa jasa. Tapi jangan salah…………tulisan inilah yang akan saya lempar kepada saudara untuk dikritisi. Kita tidak akan menjadi tukang seperti ‘tukang cukur’ karena kita memotong rambut pasien, ‘tukang sihir’ karena kita melakukan hipnotherapi, ‘tukang pijat’ karena kita melakukan massage dll. Kita akan tetap sebagai seorang professional, justru karena kita melakukan tindakan – tindakan perawatan yang jumlahnya ratusan, yang tindakan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang di luar profesi perawat.

Apakah dokter dikatakan tukang, walaupun dia mematok harga pada setiap tindakan yang dia lakukan? Siapa yang berani ngomong bahwa dokter adalah tukang? Mengapa demikian? Karena setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang dokter, dilandasi oleh sebuah ilmu pengetahuan yang mendalam. Itu yang dikatakan oleh Ibu Achir Yani “memiliki Body of Knowladge”. Sama halnya ketika seorang perawat melakukan massage kepada seorang pasien, karena dasar pengetahuan yang dimiliki oleh seorang perawat, maka dia tidak bisa dikatakan sebagai tukang pijat.

Di sinilah judul tulisan ini yang saya maksud. Ada apa setelah NIC? Nursing Intervention Clasification (NIC) adalah klasifikasi tindakan perawatan yang menurut saya sah dan legal untuk mendapatkan harga dari masing-masing item NIC itu. Soal berapa rupiah yang pantas harganya pada masing-masing item NIC itu, tentu disesuaikan dengan banyak hal yang melatarbelakangi masing-masing rumah sakit atau perawat di mana dia tinggal.

Mungkin pemikiran saya pemikiran yang sesat karena tidak sesuai dengan pemikiran yang berkembang pada dosen-dosen saya. Tapi mudah mudahan, tersesat di jalan yang benar.

Perawat Rumah Sakit Umum Banyumas, telah memasukan klasifikasi tindakan perawat itu dalam sebuah Peraturan Daerah mengenai tariff tindakan perawat. Walaupun sampai saat ini belum terealisasi 100%, tapi ini bisa dijadikan moment bagi perubahan paradigma perawat ke depan. Sehingga sebutan “Perawat adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” hilang dari kamus perawatan, justru karena perawat menjadi ”Profesional sekaligus Sejahtera”.

Tunggu saja workshop nya di akhir tahun ini………………………………

“Aplikasi NANDA, NIC, NOC signifikansinya dengan Pendapatan Rumah Sakit dan Jasa Perawat”

Pos ini dipublikasikan di nurse story dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s