Masalah Kronis Perawatan

Masalah kronis yang dihadapi perawat baik di institusi pendidikan maupun di institusi pelayanan adalah masalah jumlah tenaga. Bukan karena jumlah perawat yang kurang, tapi kemampuan pemerintah untuk menyerap tenaga perawat yang tidak memungkinkan. (Baca tulisan Zani Pitoyo dalam Perawat Nasibmu di http://zanipitoyo.wordpress.com). Maka rasio perawat dan pasien menjadi sangat tidak ideal, bahkan untuk memberikan pelayanan minimal saja sulit.

Beberapa rumah sakit mungkin mampu untuk menggaji perawat dengan mengangkat perawat sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT), ada lagi dengan model Out Sourching. Tapi kedua tenaga ini bila diruntut aturan kepegawaiannya, susah untuk ditemukan.

Untuk menyelesaikan itu, saat ini pemerintah merancang undang undang Badan Layanan Umum (BLU) untuk institusi seperti rumah sakit. Kelebihan dari undang undang itu adalah bahwa rumah sakit memiliki hak untuk mengatur SDM dan keuangan secara mandiri dengan semangat enterprenur seperti perusahaan swasta. Dan beberapa rumah sakit bahkan mulai start untuk memposisikan dirinya sebagai BLU.

Perencanaan yang matang adalah menjadi prioritas yang musti diperhatikan betul ketika menapaki BLU ini. Dalam tahap ini, mustinya perawat sebagai bagian dari komunitas rumah sakit yang jumlahnya paling banyak, harus turut ambil bagian dalam perencanaan ini, khususnya masalah jumlah kebutuhan tenaga perawat. Dengan keterlibatan dalam perencanaan kebutuhan tenaga perawat, maka masalah kronis yang dihadapi perawat tidak terulang dan terulang lagi.

Sebagai sebuah contoh, ada sebuah rumah sakit yang statusnya berubah menjadi BLU. Pengembangan pelayanan pun sangat luar biasa, bahkan sampai pada fasilitas gedungpun disediakan. Dalam perencanaan (RBA) disebutkan dalam tahun anggaran ke depan, akan ada penambahan pelayanan Unit Stroke, HCU, Born Unit, Hemodialisa, Paliatif Care, Endoscopy dll. Tapi dalam perencanaan itu ternyata tidak disebut-sebut penambahan tenaga perawat sesuai penghitungan kebutuhan tenaga.

Lho…kok bisa? Itulah nasib perawat. Sepertinya sama deh nasibnya dengan tukang sapu jalanan. Ketika jalan bersih tidak ada sampah, tidak ada satu orangpun yang memperhatikan mereka. Walaupun mereka kerja keras siang malam mengabaikan waktu istirahat dan waktu untuk keluarga. Tapi saat jalan itu kotor dan banyak sampahnya, semua orang teriak-teriak dan bertanya siapa tukang sapunya.

Perawatpun demikian. Banyak manajemen rumah sakit yang mempekerjakan perawat melebihi jam kerja yang wajar. Bahkan hanya sekedar untuk cuti atau istirahat sakit saja harus berfikir dulu, ada yang menggantikan jaga tidak? Dan kondisi itu harus diselesaikan sendiri. Manajemen rumah sakit tahunya beres. Tidak ada yang mau memperhatikan mereka. Tapi saat ada masalah di pelayanan, baru semua orang rebut.

Penambahan ruang, penambahan pelayanan dan penambahan fasilitas yang membutuhkan tenaga perawat, sering tidak terpikirkan untuk menambah jumlah tenaga perawat. Maka kondisi kronis pun semakin kronis.

Memang butuh keberanian dan kekompakan dari komunitas perawat. Ketika masing-masing perawat berjalan sendiri-sendiri dengan idenya masing-masing. Lebih-lebih lagi bila teman kita yang duduk di struktural, hanya berfikir ‘asal selamat’. Maka percaya saja, nasib perawat tidak akan berubah hatta sampai hari kiyamat.

Pos ini dipublikasikan di open mind dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Masalah Kronis Perawatan

  1. ayu berkata:

    harusnya perawat ya kerjakan tugas perawat aja, tidak tugas pokok terabaikan oleh tugas profesi lain, contone : nampa obat dari apotik, bagi ke pasien, nulis resep, bagi air…dll, dll. itu yang belum disadari oleh para menejer…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s