Mengapa Tuhan Memberi Ujian

jasSebuah tembok terdiri dari dua hal, batu bata dan semen. Tanpa keduanya, tidak ada benda yang bernama tembok. Besar atau kecil, batu bata yang tidak disemen, tidak akan menjadi tembok yang kokoh. Dan apalah artinya tembok tanpa kekohan.

Hal yang sama juga terdapat dalam hidup kita. Hidup kita terdiri atas waktu dan alasan untuk hidup. Adalah sia-sia bila kita menyusun hidup kita jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun tanpa menyadari alasan kita hidup. Sama seperti tembok yang terbuat dari batu bata yang tidak disemen. Mudah goyah…..

Itu adalah dua paragraf catatan yang ditulis dalam Motivasi Net KeeBoo. Permasalahannya adalah bagaimana agar kita mampu berdiri kokoh, memiliki integritas, idealisme dan jati diri?

Tidaklah dikatakan tembok kokoh manakala belum pernah diterjang banjir. Tidaklah dikatakan memiliki integritas manakala belum pernah diuji kejujurannya. Tidak pula dikatakan memiliki idealisme manakala belum diuji di lapangan. Dan kitapun dikatakan tidak memiliki jati diri, manakala kita terbawa arus lingkungan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita.

Orang yang selalu mengkritik pejabat tentang kinerjanya, tapi dia sendiri belum pernah menjadi pejabat, orang ini akan terlihat idealis atau tidak saat dia menjadi pejabat. Apakah konsisten dengan idealismenya atau tidak.

Orang yang selalu memberi nasihat kepada orang lain, tapi dia sendiri belum pernah menerima kesulitan, orang ini akan terlihat betul ketika dia menghadapi cobaan dan kesulitan.

Orang yang selalu jujur manakala kondisi normal tapi kemudian membebek saat keadaan terjepit, maka dialah orang yang tidak memiliki jati diri.

Idealisme, integritas, jati diri memang harus diuji. Di situlah kita tahu, mengapa Tuhan memberikan ujian kepada kita. Agar kita sadar tentang watak kita yang sebenarnya.

Cerita tentang Komite Perawatan di sebagian besar Rumah Sakit, selalu diisi oleh orang-orang kritis, idealis dan orang-orang yang memiliki integritas. Maka ketika Komite Perawatan itu berkembang dan mampu menunjukan eksistensinya, relative para pengurusnya menjadi orang-orang yang dipercaya oleh manajemen.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang ini akan dipercaya untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dari mulai Wadir, Kabid, Kasie dan seterusnya dalam jabatan struktural. Dalam keadaan inilah, uraian di atas akan berlaku. Apakah mereka tetap konsisten dengan perjuangannya membela profesi seperti pada saat berada di Komite Perawatan atau malah ikut-ikutan terbawa arus budaya birokrasi yang lebih banyak ABS (asal bos senang) nya?

Mestinya tidak demikian kondisinya. Sinergisme antara Komite Perawatan di fungsional dengan Bidang Perawatan di struktural mestinya dilakukan. Karena pada saat itulah, masing-masing kelompok ini akan memahami peran dan kesulitan masing-masing.

Komite Perawatan yang memiliki idealisme dan keinginan yang tinggi, tidak akan begitu saja memaksakan keinginannya, karena tahu bagaimana aturan main dalam organisasi birokrasi. Sehingga saat masuk dalam deretan birokrasi, orang-orang ini telah memahami bagaimana kebutuhan komunitas sekaligus memahami juga aturan main birokrat.

Begitupun Bidang Perawatan tidak begitu saja mengabaikan idealisme Komite Perawatan, karena Komite Perawatan adalah perwakilan dari komunitas perawat, merekalah yang paling tahu tentang hajat komunitas dan mereka pula yang mengendalikan komunitas perawat di rumah sakit.

Dan kedua-duanya harus ada di rumah sakit. Manakala salah satu tidak ada, tunggu saja… perawat akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam membangun eksistensi profesi di masa yang akan datang.

Pos ini dipublikasikan di open mind dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengapa Tuhan Memberi Ujian

  1. Betul itu…
    Tembok merupakan perpaduan bata dan semen dan unsur lainnya tentu saja. Unsur-unsur itu harus memiliki ke-khas-an yang berbeda agar bisa bersinergis saling mengisi. Demikian juga antara birokrat dengan komite perawat. Seharusnya merupakan unsur yang berbeda yang saling mengisi walau mungkin kadang harus beradu argumentasi. Sama halnya tembok tadi, bata jangan ditumbuk agar berfungsi sebagai perekat dan semen juga jangan dicetak dulu menjadi balok-balok, antara birokrat dengan komite perawat seharusnya berisi orang yang berbeda. Buka untuk berhadap-hadapan atau pun ungkur-ungkuran, yang penting bisa bersinergis walu sekali lagi, mungkin harus beradu argumenatasi.

  2. Edipurwa berkata:

    Omong-omong soal bata dan semen…
    Waduh….kapan rumahku selesai dibangun ya..? Belum rampung juga, padahal sudah pengin nempati je…
    Dipikir-pikir.., harus utang ke koperasi NEU lagi nih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s