Jadilah Pohon Yang Menjulang

Pada suatu hari, terjadi kecelakaan hebat di sebuah perempatan. Pasalnya, dari sebelah utara ada rombongan mobil kepresidenan dengan kecepatan tinggi, sedangkan dari sebelah timur ada mobil pemadam kebakaran dengan kecepatan tinggi juga karena segera sampai ke wilayah kebakaran, dari arah selatan ada mobil ambulan dengan kecepatan tinggi membawa pasien gawat dan dari arah barat ada beberapa mobil rombongan duta besar.

Bertemu dalam waktu yang bersamaan di perempatan, masing-masing dengan sirine yang meraung-raung. Terjadilah tabrakan hebat….Daaaarrrrrrrr…….. Pertanyaannya, siapa yang salah?…………….

Kalau saudara di rumah sakit, jawabnya adalah, “PERAWAT.”………… Lho kok?

Itulah nasib kita selama berabad-abad. Tidak ada asap tidak ada api, tiba-tiba menjadi tumpuan kesalahan, padahal kadang kita sama sekali tidak tahu menahu tentang sebuah kasus atau sebuah kejadian.

Beberapa diantaranya yang sering terjadi seperti ini. Di sebuah rumah sakit R, suatu saat ada Akreditasi Rumah Sakit. Yang paling pertama menjadi bahan perhatian dalam akreditasi adalah kelengkapan data. Maka Rekam Medik harus terisi lengkap dari nama pasien, umur, jenis kelamin, alamat, nomer rekam medis, ruang perawatan dll. Ketika ada sebuah Rekam Medis yang satu lembar saja tidak lengkap, maka perawatlah yang disalahkan. Walaupun jelas-jelas lembaran itu bukan lembar catatan perawat. Kalimat yang sering terlontar, “Perawatnya tidak mengecek kelengkapan RM.”

Kasus lainnya, suatu hari ada pasien datang dari Poliklinik masuk ke kamar operasi, tanpa membawa syarat-syarat yang diperlukan untuk kelayakan sebuah tindakan operasi. Ketika terjadi kasus, lagi-lagi yang pertama disalahkan siapa lagi kalau bukan perawat. Padahal pasien registrasi di Poliklinik saja tidak. Ooo…ternyata pasien pribadi yang dioperasi di rumah sakit.

Lain lagi….suatu waktu, dalam sebuah tagihan pasien asuransi ada selisih antara penghitungan jumlah obat yang masuk di computer lebih banyak dengan jumlah yang dituliskan di resep. Di computer yang memasukan data adalah petugas Instalasi Farmasi. Ketika terjadi selisih itu, lagi-lagi yang disalahkan adalah perawat. Komentarnya cukup menyakitkan, “Perawatnya membuang resep, obatnya dipakai oleh perawat untuk mengobati pasiennya di rumah.”

Lain lagi, suatu saat ada pasien jiwa datang ke rumah sakit dengan kemungkinan reaksi obat (semacam alergi). Yang disalahkan……team home care yang memang perawat. Padahal tidak ada satupun pasien jiwa yang mendaftarkan diri untuk dilakukan Home Care.

Dan..dan..dan.. masih seabrek masalah lain yang muncul, dan selalu perawat yang jadi tumpuan kesalahan. Gejala apa ini?

Apakah diskusi kenceng antara perawat dengan profesi lain di blognya Doni, Masfuri dll juga merupakan manifestasi kasus-kasus di lapangan? Tapi prasangka baik saya, mungkin inilah awal profesi kita mulai dilihat orang. Kata orang, pohon yang tinggi pasti akan tertiup angin kencang, diguncang badai dan diterpa topan. Manakala tegar, maka akan semakin kokoh menancapkan akarnya. Tapi apabila tidak mau ditiup angin, diterpa topan dan diterjang badai, jadilah rumput kecil yang siap di injak-injak orang.

Pos ini dipublikasikan di pesan dan tag , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Jadilah Pohon Yang Menjulang

  1. router stuff berkata:

    sip lah… terus berkarya, terus tumbuh menjulang

  2. beast berkata:

    Bukan salah bunda mengadung, salahkan aja si perawat yang ga kasih tahu cara pake Alat Kontrasepsi dengan benar.
    Comment yang tadi cuman guyon saja🙂

    Lha kalo dibikin piramida jumlah Profesi yang berada dalam sebuah Rumah Sakit maka perawat pastinya menduduki posisi terbesar dan tervital. Kaya Hierarkinya maslow. Perawat adalah dasar atawa kakinya (Mesin) rumah sakit. ga ada peawat, ga jalan itu pelayanan. tapi saat “perjalanan” kendaraan (RS) tidak sesuai keinginan bahkan “Mogok” maka Sang sopir dengan enteng menggebrak setir, menendang ban dan bahkan mencaci-maki.
    Padahal yang lupa ngisi “Bensin” ya si sopir😀

    Kapan “bensin” tidak jadi masalah buat perawat?
    hihihihihi…
    mbuhlah…

    jason:
    Iya….bener juga tuh… jadi sadar gw..he.he.he

  3. Edho valent berkata:

    Like A Great Man! Jgn berharap di anggap besar oleh prof lain kalau kita sendiri minder, merasa kecil dan selalu jadi ‘kambing yg hitam’ bukan ‘singa putih’ yg siap dan rela di korbankan.

  4. andri berkata:

    wah perumpamaan yang pertama kok syereeem banget ya..:-), mngutip kata-kata kabag SDM saya di rumah sakit..–perawat adalah ujung tombak pelayanan RS-… yang namanya ujung tombak kan bagian paling kecil dari sebuah tombak…ya panteslah klo gajinya paling kecil,hak-haknya paling kecil…..he..he, lam kenal mas, mampir yo ke blogq

  5. amest berkata:

    yah itulah perawat Indonesia…….., kapan yah bangkit kit ,,,? he he he jom jom jom bangkit bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s