Pembunuhan Karakter

Niat baik dengan cara yang baik seharusnya tidak akan menjadikan sebuah masalah, seandainya pikiran positif kita yang dikedepankan. Tapi terkadang fakta di lapangan berbicara lain.

Special point of interest Balance bulan yang lalu menampilkan agenda besar perawatan, yaitu Raker Keperawatan yang diikuti hampir 50 orang, bertempat di Wisma Palawi Baturaden. Agenda pun sudah jelas, menyusun Prosedur Tetap Keperawatan yang jumlahnya sangat banyak. Koordinasipun telah dilakukan baik kepada Bidang, Wadir maupun Direktur.

Dan Alhamdulillah, sesuatu yang sangat luar biasa ketika raker itu ternyata selain telah menghasilkan Standar Operating Procedure (SOP) baru sebanyak 140 SOP, tapi juga telah memunculkan ruh baru keperawatan berupa semangat baru,  self motivation,  kekompakan dan persaudaraan yang kuat.
Tapi bukan sebuah organisasi kalau tidak ada komentar negative. Dengarkan komentar-komentar berikut :
“Perawatan mau lari sendiri, mau maju sendiri apa?”
“Bagaimana sih Kasie Perawatan? Tidak ada Bidangnya malah melakukan kegiatan macam-macam?”
“Kesempatan nih bagi dia untuk mencari muka mumpung tidak ada Kepala Bidang.” dan lain-lain komentar yang cukup panas apabila kita tanggapi.

Tapi biarlah kalimat-kalimat itu berlalu. Toh semua sudah berjalan, dan kita sudah merasakan hasilnya walaupun belum seberapa.
Ada catatan yang disampaikan oleh Renald Kasali, PhD dalam sebuah bukunya Re Code, Beliau menyampaikan sebagai berikut, “Dalam prakteknya, para pendukung perubahan yang memiliki kepemimpinan kuat, biasanya akan menghadapi rangkaian serangan dari kelompok yang tidak mau berubah (the status quo).

Yang mereka sebarkan adalah rumor atau gossip yang sifatnya membunuh karakter (character assassination) calon pemimpin itu. Serangan juga akan datang dari para pemimpin yang posisinya terancam dan perannya memudar.”

Lebih jauh Belau menyampaikan, “dalam setiap era transformasi, rumor yang faktanya keliru akan banyak sekali ditemui di lapangan. Adalah biasa sekali, seorang yang berprestasi di bunuh karakternya dan dicarikan cara agar dia dijauhi atasannya, dikucilkan, atau tidak diberi ruang gerak yang bebas untuk berkreasi. Pembunuhan karakter biasanya dilakukan oleh para pengecut yang tidak percaya diri.”

Kata-kata “provokator, memanfaatkan kelompok, ambisius, arogan, sombong, idealis dan lain-lain adalah kata-kata yang masuk dalam kategori pembunuhan karakter itu.
Memang hari ini kita sedang melakukan perubahan. Banyak yang musti dibenahi dari profesi kita. Banyak yang harus diperbaiki dalam corporate kita. Dan satu hal, kita sedang memperbaiki Performa Keperawatan kita. Pelan tapi pasti, perubahan itu akan terjadi, dan bersiaplah kita sebagai profesi yang mandiri dan dihargai.

Maka mengutip kalimat yang disampaikan oleh Renald Kasali di atas, rumor, gossip, issue bahkan fitnah sangat mungkin akan kita dapatkan di lapangan. Membuat label negative terhadap pembaharuan atau aktornya adalah hal yang mudah dilakukan.

Di sini, saran yang disampaikan oleh Beliau adalah bahwa, organisasi harus mendukung perubahan itu dengan menciptakan iklim organisasi yang sehat, terbuka dan menumbuhkan self convidence orang-orangnya.
Maka di sinilah peran kita semua untuk saling bau membau, saling mendukung, saling menguatkan dan saling melindungi. Tidak sebagai oportunis yang hanya berpihak kepada sesuatu yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Saat enak ramai-ramai untuk berebut di posisi terdepan, tapi saat sulit, semua mengundurkan diri karena tak mau mengambil risiko.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

5 Balasan ke Pembunuhan Karakter

  1. josgandoz berkata:

    don’t kill me please …. just wash your brain please … bravo Mr. Renald Kasali …

  2. Suster Gila berkata:

    Jika Hidup adalah sebuah pohon, maka makin tinggi pohon itu makin kencang angin yang menerpanya.

    Kalimat diatas juga saya baca di Blog ini, jadi jangan patah semangat. Sudah menjadi Risikonya bukan?

  3. khairin fikri berkata:

    Sampai saat ini, di banyak tempat di negara kita, perawat masih diremehkan kemampuannya. Perawat belum dipercaya untuk menjadi pemimpin. Beberapa jabatan strategis di bidang keperawatan justru masih dipegang oleh dokter. Contohnya kepala program studi ilmu keperawatan UGM Jogjakarta masih dijabat oleh dokter.
    Mengapa terjadi demikian ? Apakah UGM tidak memiliki perawat yang berkualitas ataukah dokternya yang gila jabatan ataukah perawat di sana yang gak punya nyali untuk memegang jabatan yang sebetulnya hak dan porsi perawat!!!
    Sampai kapan perawat dilecehkan ????
    Berikan komentar Saudara …….

  4. cerdas berkata:

    Kalo namanya pembunuhan karakter berarti karakter tersebut sudah mati. Bagaimana dengan Anda sendiri? merasa sudah mati apa belum? kalo belum mati berarti baru akan dibunuh. Ya semoga saja tidak terbunuh dengan sia-sia seperti korban tertabrak kereta api dan mati dengan sia-sia.🙂

  5. kalo para perawat sudah melaksanakan tugas sesuai protap,saya rasa fitnah yang dilakukan di lapangan ga akan ngaruh….
    slain itu,pembunuhan karakter yg akan dilakukan malah akan mati sendiri jika para perawat jg dgn gigih memperlihatkan kepandaiannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s